Skip to main content

Ai ling

diinspirasikan daripada irama ini:


Ai ling
anak cina tanjung pinang
merenung langit petang
menanti baba pulang

Ai ling
anak cina rambut bertocang
bermain seorang
dengan patung hitam arang
dan basikal usang
yang sebentar tadi, baba bawa pulang

Ai ling
ke dapur menolong niang
meniup dapur kayu
muka hitam penuh abu
dibersih di air lalu
pipi itu kembali gebu

Ai ling
mahu ke sekolah
mahu belajar kira-kira
bila besar, duit berjuta Ai ling mahu punya
mahu beri pada niang, mahu beri pada baba
basikal baba mahu Ai ling tukar kereta

Ai ling
punya ramai kawan
mereka semua orang pekan
kotak pensil boleh ditekan-tekan
bukan kain jahitan seperti yang Ai ling punya
beg mereka bukan sekadar jenama Swan
bukan juga berhias tampalan seperti yang Ai ling punya

Ai ling
di suatu ruang di pasar tani
semeja sayur Ai ling jagai
datang Mak Limah, Mak Senah, Mak Biah dan Pak Ali
membeli, Ai ling menjumlah sepantas kuda lari
Ai ling sering dipuji, anak bijak kata mereka
anak cina, maka dia pandai kira-kira
Ai ling senyum sahaja, tampak dua gigi kapaknya

Ai ling
di sekolah sering dapat nombor satu
tetapi tidak dapat ke sekolah berasrama
kerana Ai ling harus tolong baba dan niang juga
Ai ling ke sekolah biasa dan terus menjadi juara

suatu hari
Ai ling terjaga lewat malam
keliling Ai ling hanya api
dari celahan dinding runtuh, Ai ling lari
dan pabila api itu henti
niang dan baba, tiada lagi
Ai ling kini sendiri
tak punya siapa-siapa lagi

Ai ling
ke rumah Mak Limah meminta simpati
tapi rumah itu berkunci
ke rumah Mak Senah dia pergi
rumah itu juga sepi
mujur ada Mak Biah dan Pak Ali
lalu Ai ling dijemput mari

Ai ling
kini anaknya Mak Biah dan Pak Ali
sungguh mereka baik sekali
manakan sama niang dan baba sendiri
Ai ling sungguh terhutang budi
cita digalas bersama luka di hati

Ai ling
mata sepet tapi tidak pejam depan ilmu
hidung penyet tapi tidak kalah menghidu peluang
mulut tipis tapi petah pada kata
sayangnya bila dipuncak dia berada
niang dan baba sudah tiada

Ai ling
kini usia dua puluh lapan
di syarikat besar dia berjawatan
pada Mak Biah dan Pak Ali, rumah banglo Ai ling hadiahkan

Ai ling
mata masih sepet seperti dulu
cuma senyum bertambah ayu
dan di kepalanya, sehelai selendang
tidak pernah lekang.


Kiambang
10072008

:: Ini cubaan menulis secara bersahaja, gabungan prosa+puisi... bahasanya mudah supaya tiada yang harus menggunakan kamus dewan untuk memahami, ceritanya ringan... sungguh, tulisan ini sangat bersifat eksperimental.. tetapi pada setiap perenggan ada sesuatu hakikat yang aku maknakan.. seperti biasa... hanya yang mengerti bisa dimengertikan...

Comments

Popular posts from this blog

To Erthe

A promise was made here to a man thousands miles yonder my monotonous ode to him goes unsung in the wind A handful of hopes is hard to cope A brimming love fits like a glove Head and heart finally concurred These hands shall eventually join I chose him, for the same reason Luna chooses Erthe, and stays O thee, my centre of gravity A Divine decreed, oh! what a wonder! Accept me in darkness, see me clearer I shall be around, till heaven asunder. ................................................... My nerves are all jittery My eyes are watery Oh! Am I crying or indeed laughing Is this not what I've been wanting

Ayah

  Ayah, Begitu mudah, Memanggil mu, suatu ketika itu. Di situ, setia menunggu, anak mu Bercerita, bercoleteh bagaikan tok guru Tersenyum, gurau mu mencuit hati ibu.   Ayah, Dalam semalam, Ada dendam yang tidak pernah padam Saat tangan mu ku genggam Melafazkan kata seberat alam Melihat mata mu terpejam   Ayah, Begitu sepi, Panggilan itu, saat ini. Tiada lagi yang menanti, Tiada lagi yang mengerti, Kau telah pergi Ke negeri abadi.   Ayah, Pergi mu mudah Pusara mu indah Pada nisan tidak bernama Pohon melur mekar berbunga Ku panjatkan doa Agar disana, Luas taman mu, Indah perhiasan mu, Aman pendamping mu Tenang lah rohmu, Sedang kami, didakap rindu.   Hingga kita bertemu lagi, Di bawah rahmat Ilahi.     Salam Akhir Ramadhan 1443 Hijrah

A Straw Poem

In my spare times, I used to draw My favorite would always be portraiture Of faces I wish to remember of teachers, friends and lovers. In my busy times, I would still draw. But lately... whenever I put my pencil to paper It turns into a straw and the paper mellow to water White and pure than never. The more I gaze into it, the clearer is the color It doesn’t ripple but begins to sparkle. And, instead of me sucking for a drink The water seems to expand at the brink Rising like tides in the evening of the tsunami Swallowing me into, instead of just water, now a sea With my tongue and my hand I taste the salt and the sand Though my feet, I don’t know where they land. I know it’s real. It is real. And, the ocean breathes life to a figure Who wears a face I used to draw How I remember every curve and feature Softer than flower, Stronger than power Afar like history, Intimate like memory. All at once, tears dance in the pool of my eyes ...